Mimpi Buruk Seragam Merah Putih di Bawah Pohon Tabebuya
"Untuk anak kecil di dalam diri ku, aku berusaha menyembuhkan mu"
Rintik hujan di pengujung tahun ini hilang samar-samar, hanya terdengar beberapa tetesan yang jatuh ke genangan di tanah. Aroma khas setelah hujan membuat pikiran sunyi dan mengantuk. Di bawah pohon ungu mekar - Tama dan Shio, mereka berdua duduk di lantai yang dingin berusaha menyembunyikan kaki mereka di bawah bantal dan selimut agar tetap hangat. Anehnya mereka membiarkan dada telanjang, tetapi pelukan guling yang sesak menyelimuti dengan hangat.
“Shio!!, menurut mu, apakah kita mulai ini dengan tragedi seragam merah putih kah?” kata Tama yang menatap serius Shio. Tampaknya dia mulai bersungguh-sungguh dengan hal ini. Kemudian Shio memegang tangan dan memluk Tama. “Akan sangat melegakan bagi kamu untuk mulai membukanya, tidak apa-apa, aku membantu mu ketika kamu kesakitan saat mengeluarkannya”. Tama memeluk erat Shio – mata dia tertutup, ritme jantung sedikit cepat, dan hembusan nafas terdengar keras dari daun telinga Shio.
Aku mengingat ini dengan baik
saat hari pertama sekolah. Taburan bedak wangi mengguyur ke seluruh tubuh seperti
Ibu melakukan hal sama ke tepung untuk adonan donat. Seragam merah putih dipasangkan
dengan telaten. Sisiran rambut ke kiri beberpa kali dipastikan Ayah agar rapi. Lihatlah
betapa paniknya pancaran raut muka mereka ketika anak pertama mulai sekolah. Setidaknya
itu hal hangat yang terlihat dari kedua mata ku. Berbagai nasihat terus
dimantrakan, si anak kecil ini hanya mengangguk polos beberapa kali. Setidaknya
beberapa minggu singkat terasa menyenangkan karena memiliki teman baru.
Hah, ini sangat sulit untuk
diceritakan. Jika bisa kembali ke tahun 2007, aku ingin memeluk anak ini untuk
minta maaf dan mengucapkan terima kasih karena sudah bertahan. Aku ingin memeluk
dia erat sekali dan menangis keras di bahu kecilnya. Dia sendiri, tidak ada
yang membela termasuk orang tua yang hangat tadi. Mereka balik menyerang dengan
menyalahkan anak ini atas prilakunya tanpa sengaja. Bahkan beberapa kali memukul
dia. Bullying bertahun-tahun di masa SD yang ditahan dan diabaikan. Anak ini
beberapa kali sembunyi karena dia takut dan sendiri. Hanya satu hal yang
terpikiran saat itu, jadi orang pintar. Mengutuk kepada semua pem-bully, mereka
akan di bawah. “Shio, dia sangat kecil tetapi sudah berfikir demikian untuk
melindungi dirinya sendiri. Mengapa dia tumbuh di situasi dan lingkungan yang
kejam?”. Hati Tama terasa sesak dan matanya mulai perih sembari menatap Shio.
Aku ingat dia kembali ke kelas
satu untuk belajar matematika dari jejak coretan di papan tulis hitam.
Mengumpulkan buku-buku bekas untuk belajar. Aku mengingat dia membaca buku
tentang Sungai Amazon di bawah pohon pisang sendiri dan mulai berimajinasi liar
di otak. Selangkah demi selangkah, dia mulai berada di atas. Situasi sedikit
berbalik, tetapi mencipatkan anak ini menjadi arogan dan tidak memiliki teman.
“Shio, menurut ku dia tidak salah.
Dia hanya menyelamatkan diri sendiri saja dari serangan bertubi-tubi dan menakutkan”
kata Tama yang menangis sambil sesegukan. Shio memeluk dia dengan erat lagi. “Terima
kasih sudah berbagi, tapi aku melihat mu dulu senyum dengan sangat cerah dan
sedikit risau karena terus menrus belajar. Sekarang aku mengerti, kenapa kamu
tidak berani berinteraksi atau mendekati orang lain terlebih dahulu. Apakah
kamu masih takut mereka akan mengatai mu seperti dulu?.” Dia menghelus pundak Tama
selama mengatkan kalimat tersebut. “Umm. Aku takut. Sangat takut. Rasanya
terkadang ingin menghilang dan memulai lingkungan yang baru tanpa ada orang
yang mulai mengenal ku sebelumnya. Ketika orang melihat dengan tatapan dan
senyuman aneh, aku sering ketakutan”. Kini Shio memeuluk dengan sangat erat dan
tetesan air mata jatuh membajiri pipinya. “Tidak apa-apa, kamu punya aku di
sini dan selamanya. Mari aku bantu sembuh pelan-pelan”.

Komentar
Posting Komentar