Kembali ke Halaman 16 Sampai 20

 

Gawai bergetar beberapa kali. Di ujung bawah sebelah kanan monitor, foto keluarga besar muncul menandakan akan ada beberapa keributan terjadi. Tama dan Shio hanya melirik, dan mata kembali membuka lembaran ke enam belas dari buku yang sejauh ini terdiri dari 24 halaman. Hanya mematung dengan mata mengikuti alur tulisan. Detakan jam di dinding tepat pukul 8 malam, mereka berakhir di halaman 20. "Shio, bagaimana pendapat mu dengan cerita ini? ". Tanya Tama dengan kerutan dahi, menandakan dia serius tentang hal ini. "Aku merasakan dia banyak dalam tekanan di masa-masa tersebut". Jawab Shio dengan senyum tipis terukir di wajah dan mata. "Pikir ku juga demikian, jadi teringat kepada diri ku". Kemudian Shio memegang kedua tangan Tama yang terlihat sedikit gemetar. Dia sedikit menghela nafas dan bibirnya mulai bercerita.

Shio, jika kamu bertanya aku untuk menganalisis diri sendiri. Aku akan menjawab "tergantung di umur dan kondisi yang mana". SMP dan SMA dimana masa saat aku membuat pondasi spotlight, aku tidak terlalu peduli dengan orang lain dan hanya mementingkan bagaimana spotlight ini terbentuk. Aku berusaha menaikkan nama ku dengan belajar lebih keras dari orang lain. Hal gila, aku pernah berfikir dan latihan bagaimana bereaksi ketika menerima setiap pengharghaan. Waala, aku mendapatkan satu per satu. Mengapa aku melakukannya?, secara simpel "aku harus buat reputasi dari sedikit sumber daya". Bisa kah kamu bayangkan di saat itu kondisi ekonomi orang tua mu lagi goyang, aku tidak ganteng, dan tidak cukup uang untuk ikut standar di sekitar. Hal yang paling realistis, jadi PINTAR. Setidaknya orang akan menghargai otak ku dan banyak peluang akan didapatkan. 


Setelah pondasi otak menjadi solid, tentu saja mendapatkan dan membangun orang dengan sumber daya yang bagus. Pada dasarnya, kebanyakan orang pintar memiliki latar belakang yang bagus kan ?. Saat SMA kelas 11 semester 2, mulai belajar untuk bersolisasi dengan berbagi orang dari berbagai kelas dan sekolah. Walaa again, perlahan-lahan terbentuk circle yang bagus. Saat itu aku berfikir, oke aku sudah tahu cara bersosialisasi dan otak sudah solid. Jika kamu bertanya apakah ini menyenangkan ?. "Yap, aku menikmati peran ini, tapi ini sangat meleahkan karena tanpa sadar membuat orang terdekat mu mulai memiliki "standar" tinggi terhadap mu, termasuk orang tua. Yap, ada hal yang harus kamu bayar jika ingin mendapatkan sesuatu". Jika jujur, di saat transisi dewasa terbentuk, fase itu sudah stress karena aku tidak boleh gagal. 


The game was changing ketika masuk kuliah. Sebelum kuliah, aku sudah menetapkan apa harus dilakukan selama kuliah seperti IPK harus 3.7, juara lomba, ikut projek dosen, magang, dan sertifikasi. Aku berfikir sejak awal, kuliah hanya batu loncatan untuk karir. Dimulai, bersosialisasi dengan semua orang-orang lebih efektif daripada masuk satu geng - berusaha buka kesempatan dan update topik untuk bahan diskusi bersama mereka serta tunjukan otak ku. Jujur, target ku bukan dosen karena tidak cukup berguna menurut ku, tapi orang di sekitar dosen tersebut. Wala, made it - ku dapat banyak tawaran projek dari teman-teman. Tidak perlu menjilat dosen dengan kerandoman mereka kan ?. Sampai ada teman curhat bilang "Nggk expect temanan sama kamu Tama". Right ?, dalam hati "gue hanya buka peluang buat jalan gue". Sangat melelahkan sembari menjalankan target yang telah ditetapkan. Walaa, I made it again dengan pengalaman didapatkan, sehingga punya di posisi ini. Jujur, hasilnya aku dapat banyak penamwaran  kerja baik di tempat ku lahir dan daerah lain. Sebelum wisuda tiap Minggu wawancara hampir dari 2 perusahaan. 


Sampai tahap ini aku merasa keren, tapi jika kamu bertanya lagi "bagaimana persaan mu, apakah puas ?". Pertama, aku akan tertawa "Hahahahaha, gue nggk mau jadi Tama yang kalian lihat selama ini. Terlalu melelahkan, dan ada teman gue bilang "jangan ambis Tam". Gue juga nggk mau, gue ingin slow living tapi dasar sudah kebentuk sejak awal dan gue ujung tombak pembuka keluarga gue. Apa yang gue lakukan bertolak belakang dengan gue. Gue nggk suka terpapar spotlight, gue lebih seneng ketika duduk dan lihat orang di panggung. Sudah itu cukup, selama gue duduk bersama dua adek dan orang tua, ini lebih cukup. Selama gue dipuji, berbakti, dan bantu orang tua dan adek itu cukup. Lihat mereka senyum dan tenang dengan adanya gue, dah cukup. Teman?, gue punya kurang dari 10 teman. Jika disaring lagi, mungkin hanya 3 teman. Ini cukup dan bahkan jika mereka pergi, aku tidak peduli. Gue dah buat dasar yang solid, dan ada orang tersayang gue. Terlalu melahkan jadi Tama yang kalian bayangkan. Bukan berarti tidak suka, gue menikmati dan itu diri gue di sosial luar gue. 


Satu cita-cita gue sekarang, gue ingin ajak satu orang cewe duduk bersama gue, Mak bapak, dan adek-adek menikmati pertunjukan orang-orang dan alam sekitar. Gue harap kita saling respek, se-frekuensi, dan tidak risih duduk bersama keluarga gue. Tentu saja, aku akn memberikan kursi lebih nyaman untuk dia duduk, bahkan yang lebih dari orang tua gue punya. Gue pangku, jika dia bosan duduk di sana. Atau membiarkan kepalanya bersandar. Tapi gue punya satu permintaan "buat gue, lo jadi rumah dan menghormati orang tua gue". Terkadang menjadi Tama di sosial itu melelahkan, begitu pasti juga calon gue "gue akan berusaha keras buat lo nyaman dan pulang ke gue, seperti orang tua lo berikan". Gue nggk peduli anak, asalakan kita satu sama lain menikmati dan duduk bersama, nanti pas balik ke Allah - gue akan bilang "Makasih ya Allah, atas pengalaman singkat di dunia ini. Hamba puas, sekarang hamba balik ke mana harus pulang, tidak masalah, hamba terima dengan ikhlas".


To be continued ....

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mimpi Buruk Seragam Merah Putih di Bawah Pohon Tabebuya

One Week Journey in Alor: Warm and Beautiful Smile of Local Community

A Sustainability Analyst: Mapping to Reporting Data