Tapak Kaki Pertama di Kabupaten Primadona Timur Indonesia, Via Agenda Kerja
Tengah malam di bandara Ngurah Rai terasa seperti mall yang masih buka di atas jam sepuluh malam. Koper-koper berbaris mengikuti antrian ditarik oleh majikannya, termasuk aku. Agenda kali ini menjadi kunjungan pertama selama dua tahun berkerja di sini sebagai sustainability analyst. Aku tidak mungkin bisa ke sana, jika tidak mendaptkan undangan dari Sustainability Manager baru yang berkantor di sana.
Total
hampir lima jam untuk sampai di Sorong, setara penerbangan langsung ke Taipei,
setelah melakukan penerbangan yang melelahkan dan menaktukan menerjang
turbulensi. Tepat pukul enam pagi, kota ini dibasahi hujan yang sedikit lebat.
Sedikit risau, karena harus menempuh perjalanan dua jam lagi untuk sampai
Waisai – Ibu Kota Kabupaten Raja Ampat via kapal cepat. Aku menginap satu hari
di sini, di sebuah diving resort. Akhirnya, tidak peduli dengan perut
keroncongan, tubuh ku otomatis terbaring di atas kasur dan tertidur pulas bak
dibius.
Pagi
yang cerah dengan kicauan burung dari hutan dekat penginapan. Dari teras kamar,
ini pertama kalinya aku melihat kumpulan cumi berenang selama hidup 24 tahun.
Hijau hutan di balik hamparan laut membuat ku tidak berkedip selama dua menit
dan tidak habisnya mengambil foto. “Tuhan, ternyata ini namanya Raja Ampat”
batin ku. Tengah hari, aku harus melanjutkan dua jam perjalan lagi. Kali ini
aku dijemput oleh speedboat perusahaan. Sepanjang perjalanan,
pulau-pulau kecil dengan topping peopohonan khas menghiasi. Di saat itu
juga aku menyesal tidak mengganti android ini dengan iPhone.
Tiba
di Teluk Alyui, tempat budidaya kerang mutiara selatan sejak tahun 1998. Ibu
Cath Witten – Sustainability Manager menyambut dengan pelukan hangat dan
CSR rep – Ibu Marni, akhirnya bertemu juga setelah sekian lama via online. Di
sini, aku dan Ibu Cath akan membahas terkait sustainability data collection
dan kegiatan CSR. Di Lokasi budidaya ini, ada banyak sekali hewan endemik
dengan dikelilingi oleh hutan dan lautan. Di sini, pertama kalinya melihat
anak-anak hiu di tengah malam keluar bermain. GRI 304 Biodiversity
sangat dibutuhkan di sini.
Kami
melakukan kunjungan ke Desa Selpele, 30 menit menggunkan speedboat perusahaan
untuk meghadiri English Program untuk sekolah SD di sana. Sebagai bagain
dari GRI 413 Local Community, Ibu Cath membuat program ini lebih
interaktif dan menyenangkan. Beliau telah memiliki pengalaman sebagai guru
Bahasa Inggris juga di Korea Selatan selama dua tahun. Dalam program ini, kami
mengajarkan kepedulian terhadap pembuangan sampah ke dan dari laut kepada
anak-anak SD. Ini sangat penting, mengingat hidup di pulau terpencil dan
profesi sebagaian besar adalah nelayan. Setelah kami memberikan edukasi, kami
melakukan bersih-bersih pantai bagaian dari World Clean Up Day 2025.
Sekitar 50 Kg sampah berhasil dikumpulkan, yang kemudian dibawa ke lokasi untuk
disortir oleh staff sebagai bagian dari penangan sampah – GRI 306 Waste.
Selama
dua minggu di sini, aku menghabiskan waktu untuk diskusi prihal sustainability
data collection mapping. Untuk mengisi waktu luang di pulau terpencil ini, aku
dan staf lokal hanya memancing dan bakar-bakar ikan. Ada suatu momen dalam dua
minggu tersebut membuat hati ku terasa sedih. Ketika masyarakat datang ke
lokasi untuk internet, saya sedikit merasa sedih dan bersyukur dapat hidup di
Lombok dan Bali. Di sana Akses publik tidak bagus, bahkan untuk melanjutkan
sekolah harus ke Ibu Kota dan sewa tempat tinggal. Seketika berpikir kenapa
tidak ada inovasi subsidi membuat kapal cepat harian seperti motor yang
diberikan kepada orang yang tinggal di sini atau mungkin merelokasi ke tempat
dengan akses lebih baik. Tidak mengerti juga alasan dibaliknya, mengingat masalah
sosial sangatlah kompleks.

Komentar
Posting Komentar